Jumat, 14 Dec 2018
radarbojonegoro
icon featured
Features

Candra, Anak 14 Tahun Penderita Mikrosefalus

oleh: M.Mahfudz Muntaha

Kamis, 29 Nov 2018 11:43 | editor : Ebiet A. Mubarok

BUTUH BANTUAN: Candra saat digendong ibunya. Tangan dan kaki tidak bisa bergerak. 

BUTUH BANTUAN: Candra saat digendong ibunya. Tangan dan kaki tidak bisa bergerak.  (M. Mahfudz Muntaha/Jawa Pos Radar Blora)

BLORA - Rumah berdinding anyaman bambu dan berlantai tanah di RT 04/RW 02, Desa Plosorejo, Kecamatan Banjarejo, Blora ini, menyimpan kesedihan penghuninya. Candra, anak pertama dari pasangan Suntari dan Rustak, menderita mikrosefalus atau gangguan saraf membuat kepala mengecil. 

Candra sejak umur satu tahun tidak bisa mengerakkan tubuhnya. Sampai saat ini usia 14 tahun, hanya bisa tergeletak di kamar. Untuk kesehariannya hanya digendong ibunya. 

Kemarin (28/11) pagi saat ditemui di rumahnya, Candra digendong. Tubuhnya kurus. Menurut Suntari, berat badan anaknya sekitar 25 kilogram. Selain tak bisa bergerak, Candra juga tidak bisa berkata apapun. Kalaupun menginginkan sesuatu, Candra hanya bisa mengerang.

Menurut Suntari, penyakit mikrosefalus diderita putranya sejak lahir. Candra lahir di sebuah rumah sakit di Kabupaten Indramayu, Jawa Barat. Kepalanya sudah kecil sejak lahir. “Pas lahir normal, berat badannya juga normal. Hanya kepalanya lebih kecil,” ujarnya. 

Saat itu, kondisi anaknya masih normal dan sehat seperti umumnya bayi. Ketika berusia 4 bulan, anaknya mengalami demam tinggi. Saat itu diperiksakan ke seorang bidan di Indramayu. Bidan menyuntik Candra di bagian kaki. Saat itu anaknya kembali normal. 

Tanda-tanda Candra sakit ketika usia satu tahun. Anaknya mengalami kejang. Tangan dan kakinya menjadi kaku tidak bisa digerakkan hingga saat ini. Suntari merawat Candra penuh kasih sayang.

Setiap hari, Suntari harus mengawasi anaknya. Seperti memberi makan atau membuang kotoran. Kalau ingin makan, Candra selalu mengerang. “Kalau makan harus dengan sayur, kalau nasi saja gak bisa masuk,” ujarnya.

Sementara itu, Rustak mengatakan, selama dua tahun saat kali pertama menginjakkan kaki di Blora, belum sekali menjalani pemeriksaan. Minimnya perekonomian menjadi alasannya. Akhirnya, pasutri sederhana ini memilih merawat anaknya di rumah. 

Namun, selama di Indramayu, Rustak mengaku berulang kali memeriksakan anaknya di rumah sakit maupun di pengobatan tradisional. Dulu dirinya punya akses berobat gratis. 

“Tapi sekarang gak punya. Jadi saya ikhlas saja saya rawat di rumah,” ucapnya dengan sedih.

Rustak mengaku biaya berobat juga mahal. Sedangkan, dirinya hanya kerja bangunan serabutan. Bahkan rumah ditempati itu masih ikut orang tua. “Istri saya di rumah merawat Candra,” ujarnya.

Siti Imroatin, salah satu tetangga Suntari mengaku ikut prihatin dengan kondisi Candra.  Dirinya sudah melaporkan ke bidan saat posyandu. Saat itu Candra juga sudah dicek. Tapi sayangnya tidak ada kelanjutan penanganan. 

“Kalau saya penginnya mereka dapat bantuan rutin. Memang kondisinya kurang mampu,” ujarnya.

(bj/fud/rij/bet/JPR)

 
Jawa Pos Digital
E-Paper
Most Read
 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia