Jumat, 14 Dec 2018
radarbojonegoro
icon featured
Features

Teater Nonsekolah, Lahirkan Banyak Dramawan  

oleh: Wahyu RIzkyawan

Rabu, 28 Nov 2018 18:12 | editor : Ebiet A. Mubarok

KOMUNITAS SENI: Bagus Kistiyono (urutan dua dari kanan atas) saat bersama pegiat Tater Celah. Komunitas ini telah melahirkan beragam pegiat seni dan drama.

KOMUNITAS SENI: Bagus Kistiyono (urutan dua dari kanan atas) saat bersama pegiat Tater Celah. Komunitas ini telah melahirkan beragam pegiat seni dan drama. (Istimewa)

BOJONEGORO - Pria berambut gondrong itu terlihat bergegas ke luar dari sebuah studio foto. Dengan ramah, dia menyambut Jawa Pos Radar Bojonegoro saat berkunjung ke tempat tersebut. Sambil membawa dua gelas kopi, lelaki bernama lengkap Bagus Kistiyono itu bercerita mengenai perkembangan teater. 

Bagus Kistiyono bukan orang sembarangan. Meski jarang tampil di depan layar, dia pendiri Teater Celah. Teater legendaris melahirkan banyak dramawan di Bojonegoro. Bahkan, menjadi satu-satunya teater umum (nonsekolah dan kampus) pertama mampu membikin pertunjukan tunggal. 

Hanya, perjalanan Teater Celah bukan sesuatu yang mudah. “Tentu awalnya dari kegelisahan. Saya mulai mengumpulkan teman-teman untuk bermain teater,” kata pria akrab disapa Bagus itu kemarin (27/11). 

Bagus berkisah, Teater Celah didirikan 2007 lalu. Awalnya, dia gelisah sudah jarang pemuda bikin acara-acara pertunjukan. Dari sana, dia mulai menulis naskah. Lalu mencari pemain. Cara mencari pemain pun unik. Dia membawa ke sana-sini naskah ditawarkan ke sejumlah teman mau memainkan naskah itu. 

Sejumlah teman kala itu dia temui, menjawab dengan kalimat khas dan entah kenapa seperti seragam: nanti kalau ada celah waktu saya akan bergabung. Dari sana lah, nama Teater Celah didapat. Karena membuat delapan naskah cerita, dia juga mendapat delapan teman. 

Dari teman-temannya itu, dia memantapkan mendirikan Teater Celah pada 2007. Teater Celah melakukan tunggal pertama pada 31 Mei 2007. Di pentas pertamanya itu, Teater Celah membikin pentas tunggal. Tentu itu sangat sulit. 

Pasca Des Teater (teater legendaris Bojonegoro), Bojonegoro belum pernah ada teater umum mampu mengadakan pertunjukan tunggal. Dari sanalah, kebanggaan itu mulai muncul.  “Pasca Des Teater, memang waktu itu belum ada teater umum yang membikin pertunjukan tunggal,” imbuhnya.  

Dengan berbagai keterbatasannya, Teater Celah pernah mengikuti salah satu festival teater nusantara di Surabaya pada 2008. Meski tidak mendapatkan juara, itu menjadi kebanggaan.  Mampu menjadi wakil Bojonegoro di kancah nasional. Mengingat, tahun itu fasilitas masih belum semudah saat ini. 

Teater Celah, kata dia, waktu itu sering bikin pentas tunggal. Karena itu pula, teater tersebut dilirik kampus. Hingga akhirnya diminta workshop. Bahkan, ada kampus sebelumnya belum ada unit kegiatan mahasiswa (UKM) teater. Lalu, tiba-tiba bikin UKM teater. 

Teater Celah melahirkan banyak seniman dan dramawan. Budayawan muda seperti Takim Pantomim dan Oki Kocin lahir dari rahim Teater Celah. Bahkan, banyak pula mengembangkan diri tidak hanya di ranah teater. Namun, disiplin seni lainnya. 

Bagus sendiri lahir dari keluarga seni. Orang tuanya pemain ketoprak. Pria 33 tahun asal Ledok Wetan itu menyukai seni drama sejak kecil. Bahkan, pada 2005-2006 dia dan kawan-kawannya pernah pentas tari di Surabaya mewakili Bojonegoro. Festival tari nusantara. Pada kesempatan itu, dia sempat lolos ke Jakarta tanding dengan lima negara. Namun, karena tidak mendapat biaya dari pemerintah, dia didiskualifikasi. 

Bapak dua anak itu menceritakan, perjuangan Teater Celah sangat berat. Terutama di era 2007-2010. Tiap kali mengadakan pentas, selalu ada salah satu harta anggota dikorbankan. Bahkan sering menjual ponsel untuk biaya pentas. Dia masih ingat, dulu diam-diam sering menjual ponsel diuangkan dan diberikan ke bendahara. 

“Saat ditanya, saya bilang ada sumbangan dari orang,” kenangnya.  

Teater Celah mulai vakum pada 2010. Waktu itu, terakhir pentas di Blora. Setelah itu, sampai sekarang vakum. Alasannya, mayoritas anggota sudah berkeluarga. Mengingat banyaknya jejak ditoreh, dia dan sejumlah anggota Teater Celah berkeinginan menghidupkan kembali kelompok teater berdiri sejak 11 tahun itu.

(bj/zky/rij/bet/JPR)

 
Jawa Pos Digital
E-Paper
Most Read
 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia