Jumat, 16 Nov 2018
radarbojonegoro
icon-featured
Redaksi
Oleh: Yudha Satria Aditama

Jangan Menikah kalau Belum Siap

Minggu, 09 Sep 2018 12:44 | editor : Fa Fidhi Asnan

Profil

Profil (Ainur Ochiem/Radar Bojonegoro)

Miris! Orang tua mana pun akan berpendapat sama begitu membaca berita siswa SD memperkosa perempuan dewasa. Pertanyaan yang muncul,  salah siapa? Tentu, orang tua adalah obyek pertama yang patut disalahkan.Siapapun sepakat orang tua adalah sekolah pertama si anak. Ibaratnya, anak adalah kertas polos. Akan diisi tinta emas atau tinta hitam tergantung penulisnya, yaitu sang orang tua.

Baik atau buruk perilaku si anak akan bergantung besar darimana pendidikan anak bermula. Wajar jika semua narasumber terkait kasus pemerkosaan DNP siswa kelas VI salah satu SDN di Prunggahan Kulon, Kecamatan Semanding selalu menyalahkan orang tua pelaku. Kasus langka yang pertama kali masuk ke meja Satreskrim Polres Tuban ini seakan kembali membuka lembaran kelam dunia anak di Bumi Wali.

Rentetan kasus yang melibatkan anak bukanlah hal baru di Tuban.  Kasus pemerkosaan DNP siswa kelas IV salah satu SDN di Prunggahan Kulon, Kecamatan Semanding misanya. Kasus langka yang pertama kali masuk ke meja Satreskrim Polres Tuban ini benar-benar merobek hati orang tua siapapun yang mengetahui.

Namun rentetan kasus yang melibatkan anak bukanlah hal baru. Dalam satu bulan terakhir saja ada empat kasus miris yang melibatkan anak di bawah umur. Pertama kasus bunuh diri pelajar salah satu SMA di Tuban. Berikutnya ada tiga kasus yang terjadi di Kecamatan Semanding. Yaitu pembuangan bayi yang masih hidup di Kelurahan Karang, pencabulan guru ngaji kepada santrinya berusia 9 tahun di Desa Tegalagung, dan ditutup dengan pemerkosaan yang dilakukan siswa SD terhadap tetangganya di Prunggahan Kulon.

Semuanya hampir bersamaan. Nyaris tanpa jeda. Ada rasa was-was bagi orang tua yang ingin anaknya baik-baik saja. Sebab ancaman bisa datang dari mana saja. Bahkan dari orang yang tak terduga seperti guru mengaji hingga tetangga sekaligus kerabatnya sendiri. Jika anak melakukan kesalahan hingga merugikan orang lain, tentu orang tua harus bertanggung jawab. Mutlak. Tidak ada opsi lain. Jika saya diposisikan sebagai orang terdekat korban kelakuan jahil si anak pun akan menyalahkan orang yang sama.

Stand up Comedian Ernest Prakasa dalam salah satu materi komedinya mengatakan “Jika anak saya melihat awkarin (selebgram yang dinilai kontroversial) lalu meniru dia, apakah saya pantas menyalahkan awkarin? Tentu tidak. Saya sebagai orang tua yang salah karena membiarkan anak saya sampai tahu awkarin.” Kira-kira begitulah potongan kalimat yang paling saya ingat dari tour stand up comedy bertajuk Setengah Jalan yang diselenggarakan 2017 lalu.

Saya sangat setuju. Orang tua adalah urutan teratas pendidikan karakter anak sebelum sekolah dan lingkungan. Kenapa anak zaman dahulu lebih sopan dan cenderung lebih takut melakukan kesalahan? Kuncinya orang tua. Pernikahan usia 30 tahun ke atas pada dekade 70an sangat wajar. Itu karena orang dulu punya patokan menikah ketika sudah siap. Berbeda dengan sekarang. Trennya, menikah usia muda. Entah siap atau belum. Yang penting menikah dulu. Dampaknya? Belum siap mengurus anak. Belum siap bertanggung jawab atas keluarga dengan segala permasalhannya. Hasilnya perceraian dini. Terburuk, anak tidak terurus hingga merugikan orang lain.

Banyak yang bilang menikah untuk menghindari zina. Lawan kata zina adalah tidak melakukan zina, bukan menikah. Sebelum menikah, pastikan dirimu dan pasanganmu siap. Siap mental dan fisikmu. Siap duitmu. Siap berbagi kebahagiaanmu untuk pasanganmu. Kuncinya, bahagiakan dirimu dulu. Baru membahagiakan anak orang. Jangan anak orang yang sudah bahagia, kamu ajak hidup susah dengan alasan cinta. Nonsense bro! (*/ds)

(bj/yud/faa/JPR)

Alur Cerita Berita

 
Jawa Pos Digital
E-Paper
Most Read
 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia