Jumat, 16 Nov 2018
radarbojonegoro
icon-featured
Peristiwa

DP: Ini Potret Kelamnya Dunia Anak

Minggu, 09 Sep 2018 12:30 | editor : Fa Fidhi Asnan

ilustrasi

Ilustrasi (Istimewa/Jawa Pos Radar Bojonegoro)

DEWAN Pendidikan (DP) Tuban menilai kasus pemerkosaan yang dilakukan pelajar SD berinisial DNP terhadap tetangganya tidak bisa dianggap remeh. Ratna Handayani, anggota DP Tuban mengatakan, kasus pemerkosaan tersebut merupakan potret kelamnya dunia anak saat ini. Juga, sebagai gambaran lemahnya pengawasan orang tua terhadap tumbuh kembang anak hingga bebas mengakses pornografi dan merugikan orang lain.

Pemerhati dunia pendidikan ini menilai, tindakan asusila yang dilakukan pelajar kelas VI salah satu SDN Prunggahan Kulon, Kecamatan Semanding ini bisa dijadikan pengingat betapa pentingnya pengawasan orang tua terhadap sang buah hati.

Menurut Ratna, kasus pemerkosaan yang dimulai dari pornografi adalah efek jangka panjang. ‘’Anak ini pasti sudah kecanduan pornografi hingga berani nekat action (memperkosa, Red). Kalau sekadar nonton film porno satu atau dua kali tidak mungkin sampai nekat,’’ ucapnya.

Ratna menjelaskan, pornografi ibarat bom waktu. Anak yang melihat film porno awalnya mungkin hanya iseng atau ikut-ikutan. Namun, dampak pornografi bisa meledak kapan saja. Dikatakan dokter gigi ini,  pornografi merusak otak secara perlahan hingga menghilangkan akal sehat. Seorang pecandu pornografi jika ada kesempatan pasti akan melakukan hal yang merugikan orang lain. ‘’Harus ada tindakan nyata untuk menangani kasus ini karena sangat mungkin ada anak-anak lain seperti dia (DNP, red),’’ tambahnya.

Karena itu, Ratna berhadap ada tindakan untuk menangani DNP. Salah satunya, menganjurkan siswa tersebut dipindah ke sekolah lain. Hal ini mempertimbangkan kondisi jiwa sang anak yang pasti akan mendapat kecaman atau intimidasi dari orang sekitar. Di sisi lain, kebiasaan buruk sang anak bisa menular ke teman sepermainannya. ‘’Kalau memang nantinya tidak ditahan, saya imbau pelaku pindah sekolah,’’ tegasnya.

Tentu, ketika dipindah sekolah, DNP harus mendapat perlakuan khusus. Salah satunya diterapi. Terapi tersebut bertujuan untuk menghilangkan kebiasaan atau kecanduan terhadap film porno. Jika dibiarkan, kata Ratna, efek pornografi tidak akan hilang dan tentu akan merugikan orang lain. ‘’Efek kecanduan pornografi tidak mungkin hilang begitu saja, jadi harus dilakukan terapi terhadap psikologis anak,’’ jelasnya.

Ratna lebih lanjut mengatakan, agar anak tidak terperosok ke dalam jurang dari dampak negatif pornografi, peran orang tua sangat penting. Dari beberapa kasus yang pernah dia ketahui, mayoritas anak melihat film porno karena lepas kendali dari pengawasan orang tua. Merasa tidak diperhatikan, lantas sang anak ikut-ikutan tren yang digandrungi teman sepermainannya. ‘’Jadi harus ada perhatian dari orang tua agar anak terbuka dengan apa pun,’’ tutur dia.

(bj/yud/ds/faa/JPR)

Alur Cerita Berita

 
Jawa Pos Digital
E-Paper
Most Read
 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia