Jumat, 16 Nov 2018
radarbojonegoro
icon featured
Features
Ahmad Rifai Sutradara Film Pendek asal Blora 

Angkat Kisah Difabel, Karyanya Juara Satu Nasional 

Oleh: Amrullah A.M

Kamis, 02 Aug 2018 21:37 | editor : Ebiet A. Mubarok

Ahmad Rifai

Ahmad Rifai (Istimewa/Jawa Pos Radar Bojonegoro)

BOJONEGORO - Rifai masih di Kantor Panitia Pengawas Kecamatan (Panwascam) Kradenan. Dia mendapat tugas menjadi staf administrasi di tempat tersebut. Jadi, selain menjadi seorang guru ada tugas lain. 

Fai, sapaan akrab Ahmad Rifai, adalah guru kimia di SMAN NU Kradenan. Dia lulusan jurusan kimia, Universitas Negeri Semarang (Unes). Dia memilih pulang ke desa karena ingin mengabdi. Jadi, setelah lulus dia pun mengajar di sekolah berada di Kecamatan Kradenan. 

Di sekolah inilah, Fai tak hanya menjadi guru mata pelajaran kimia saja. Dia pun terus menyalurkan hobinya. Bermain teater. Selain itu, dia juga masih saja belajar tentang dunia perfilman. 

Fai tak sendiri. Dia mengajak murid-muridnya di ekstrakurikuler teater untuk belajar film. Sebab, dunia teater dan perfilman memang bersinggungan. Khususnya, seni peran hingga penulisan naskahnya. Meski, gaya penulisannya berbeda. 

Dari aktivitas awalnya hobi itu. Akhirnya membawa dia dan muridnya menjadi juara satu Pekan Olahraga dan Seni Maarif NU tingkat Nasional (PORSEMANAS) I 2018 pada 23-26 Juli di Malang. 

Film pendek diikutkan lomba itu adalah film disutradarai oleh Fai. Bukan hanya sutradara.  Bahkan dia terlibat dalam proses editing-nya sekaligus. 

Film karyanya itu diberi judul ‘Menembus Batas’. Film ini melibatkan warga sekolah. Sekaligus, penduduk sekitar Kradenan untuk menjadi pemerannya. 

Dia menceritakan, film ini mulai digarap pada akhir 2016. Prosesnya, dia membutuhkan waktu cukup lama. Hampir 3 bulan lebih. Mulai dari memilih pemeran hingga memilih lokasi pengambilan gambar. 

Fai mengaku, tak mudah membuat daerah di Kradenan bisa apik di hadapan kamera. Selain itu, dia pun mati-matian terus memberikan pemahaman tentang pentingnya menjiwai karakter tokoh. 

Film berdurasi 19 menit 17 detik ini, mengisahkan tentang seorang siswi difabel. Tokohnya bernama Nira, penyandang tunawicara. 

Dalam kondisi itu, Nira tetap berusaha untuk mendapatkan kesempatan belajar. Meski di desa, dia banyak dihina oleh teman-temannya.  Namun, perjuangan tersebut akhirnya membuahkan hasil manis saat bakat di bidang tarinya diapresiasi pihak sekolah dan berhasil menjuarai kompetisi.

Menurut Fai, dalam film ini bukan hanya tentang difabel saja. Melainkan, ada tempat-tempat di Kradenan ingin ditunjukkan ke publik. Misalkan, adanya Gua Sentono dan Sungai Bengawan Solo. 

“Kami ingin menyampaikan tentang desa kami ke semua orang,” ujar dia. 

Dikatakan Fai, ada pesan ingin disampaikan saat dirinya menulis naskah film tersebut. Mengangkat kisah gadis difabel, kata dia, adalah sebuah hal nyata. Sebab, kondisi ini banyak terjadi. Yakni, seorang difabel belum mendapatkan perlakuan layak. 

“Kami ingin sampaikan, masyarakat kita yang difabel itu banyak yang belum mendapatkan kesempatan baik. Bahkan di masyarakat desa,” terangnya. 

Menurut Fai, setelah film ini viral di YouTube. Ada seorang perempuan datang ke dia. Perempuan itu adalah seorang ibu yang anaknya punya kisah sama dengan tokoh di film. 

“Saya didatangi ibu-ibu,” kata dia. 

Dia melanjutkan, adanya film ini ingin mendorong agar masyarakat tak mengesampingkan masyarakat berkebutuhan khusus. Sebab, perlu ada nilai-nilai ditanamkan ke masyarakat agar tidak membeda-bedakan dengan mereka berkebutuhan khusus. 

Sementara itu, banyak pelajaran didapat dari pembuatan film. Bagi Fai, memproduksi film tak semudah membalikkan tangan. Sebab, ada proses panjang harus dilalui. Misalnya, untuk pengambilan gambar hingga proses editing. 

“Saya banyak belajar otodidak untuk proses editing-nya,” tandasnya.

(bj/aam/nas/bet/JPR)

 
Jawa Pos Digital
E-Paper
Most Read
 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia