Rabu, 14 Nov 2018
radarbojonegoro
icon featured
Redaksi

Ma Changqing dengan Ratusan Ribu Pelayat

Oleh: Dahlan Iskan

Senin, 30 Jul 2018 18:22 | editor : Ebiet A. Mubarok

Dahlan Iskan

Dahlan Iskan (Istimewa/Jawa Pos Radar Bojonegoro)

DISWAY - Beberapa pembaca disway mengirim pertanyaan: benarkah ulama besar di Tiongkok meninggal? Kapan? Siapa beliau? Mengapa yang mengiringkan jenazahnya sampai ratusan ribu orang? Pertanyaan itu diajukan beserta video pemakaman. (Lihat video dimaksud).

Saya sudah menerima kabar duka itu lebih dulu. Sehari setelah beliau wafat tanggal 16 Juli lalu. Tapi saya tidak menulis untuk disway. Saya tidak merasa kompeten. Saya memang beberapa kali ke Qinghai tapi belum pernah bertemu beliau. Saya tahu ketenaran beliau tapi saya tidak mengenalnya secara langsung.

Betul. Beliau meninggal. Nama: Ma Changqing. Usia: 83 tahun. Meninggal: 16 Juli 2018. Beliau adalah imam besar Tiongkok. Dari Masjid Dongguan di Kota Xining, ibukota  Provinsi Qinghai.

Nama masjid  itu diambil dari nama jalan: Jalan Dongguan. Nama-nama masjid di Tiongkok selalu mengambil dari nama jalan. Karena itu ada masjid yang namanya Masjid Jalan Sapi. Itu karena masjidnya di Jalan Niu Jie (牛街). Itulah masjid  terkenal di Beijing. Yang arsitekturnya seperti kelenteng itu.

Tidak ada ulama di Tiongkok yang melebihi Imam Ma Changqing (马长青). Masjidnya besar sekali: bisa untuk 10.000 orang. Termasuk halaman yang di dalam pagar masjid. Arsitekturnya kombinasi: Arab, Tiongkok, dan Barat.

Inilah salah satu masjid tertua di Tiongkok. Berumur hampir 1.000 tahun. Memang sudah beberapa kali direnovasi tapi bangunan aslinya masih ada. Termasuk bangunan bersejarah yang dilindungi. Sekalian jadi pusat turisme. Tidak ayal kalau kadang ada wanita bercelana pendek masuk masjid itu. Di luar jam peribadatan.

Soal arsitektur masjid ini lagi hangat dibicarakan di Tiongkok. Terutama di provinsi-provinsi yang padat umat Islamnya: Xinjiang, Qinghai, Gansu, dan Ningxia. Juga di Kunming. Saya sudah menjelajahi semua provinsi tersebut. Jumatan di sana. Atau buka puasa.

Pemerintah Tiongkok lagi mendekati masyarakat Islam: agar mengubah arsitektur masjid. Menjadi lebih bernuansa lokal. Jangan mengimpor budaya Arab seperti selama ini.

Kata pemerintah: tidak perlu lagi ada kubah. Yang mereka sebut bentuknya menyerupai bawang itu. Maka masjid yang mirip Masjid Chengho di Surabaya kian banyak di Tiongkok.

Di samping Imam Besar Ma Changqing adalah juga anggota MPR. Mewakili golongan minoritas. Juga menjabat wakil ketua DPRD Provinsi Qinghai.

Beliau juga pengurus partai komunis. Para takmir masjid di Tiongkok umumnya juga pengurus partai komunis setempat.

Dari pemakaman Imam Ma Changqing itu bisa dilihat bahwa kuburan masih diperbolehkan di Tiongkok. Tapi khusus untuk orang Islam. Untuk yang bukan Islam tidak boleh ada kuburan. Mayat mereka harus dibakar. Abunya disimpan di rumah abu. Untuk diziarahi setiap Jingbing. Kalau mau.

Orang Islam di Tiongkok selalu ke kuburan. Setiap Idul Fitri. Itulah acara pertama dan utama setelah salat Idul Fitri.

Saya pernah ke kuburan di hari raya seperti itu. Tapi karena salah paham. Belum mengerti budaya ke kuburan.

Pagi itu, saya sudah rapi. Begitu juga istri. Ingin salat Idul Fitri di masjid terdekat. Harus naik taksi.

Kepada sopir taksi saya bilang: saya ingin salat Idul Fitri yang paling banyak didatangi orang Islam. Sopir taksi itu mengerti. Tahu yang saya maksud.

Ternyata saya diantar ke kuburan. Ya sudah. Gak mungkin balik. Kalau pun ngotot minta diantar ke masjid salatnya juga sudah selesai. Toh itu hanya salat sunah. Bukan wajib. Sudah begitu sering saya salat Idul Fitri di Tiongkok.

Hari itulah saya tahu: kuburan itu ramainya bukan main. Pantas sopir taksi sampai terkesan.

Peziarah itu umumnya datang satu keluarga. Membawa alas duduk. Dan makanan/minuman. Mereka pesta Lebaran di makam itu. Yang tidak  bawa makanan pun bisa beli. Banyak pedagang makanan dadakan di kuburan itu. Juga pedagang barang lainnya.

Saya terkesan belakangan ini: banyak anak muda ke masjid. Tidak seperti 20 tahun lalu. Tapi saya belum melihat anak-anak di sana.

Menjadi Islam –maupun Kristen– tidak mudah di negara komunis seperti Tiongkok. Tapi selalu ada jalan. Selalu lahir “Walisongo”. Di mana saja.(dis)

(bj/*/bet/JPR)

 
Jawa Pos Digital
E-Paper
Most Read
 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia