Rabu, 14 Nov 2018
radarbojonegoro
icon featured
Features
Sukartini, Penjual Lontong Sayur Naik Haji

Sisihkan Hasil Penjualan untuk Ditabung

Oleh: Ahmad ATho'Illah

Jumat, 20 Jul 2018 07:50 | editor : Ebiet A. Mubarok

BUAH PERJUANGAN KERAS: Kartini, penjual lontong sayur di Desa/Kecamatan Rengel yang menunggu pemberangkatan ke Tanah Suci.

BUAH PERJUANGAN KERAS: Kartini, penjual lontong sayur di Desa/Kecamatan Rengel yang menunggu pemberangkatan ke Tanah Suci. (Canggih Putranto/Jawa Pos Radar Tuban)

TUBAN - Tekad Sukartini, 63, untuk menunaikan ibadah haji patut menjadi teladan. Kondisi keuangan yang pas-pasan sebagai penjual lontong sayur tak menyurutkan niat nenek asal Desa/Kecamatan Rengel ini berangkat ke Tanah Suci.

Penantian panjang itu akhirnya datang. Rasa bangga dan bahagia yang membuncah itu terpancar pada roman muka nenek Sukartini ketika diwawancarai sejumlah awak media.  ''Keinginan berangkat haji ini cita-cita saya sejak remaja. Sebelum saya menikah,'' kata nenek 3 anak dan 4 cucu itu. 

Bagi orang berada, tentu hal itu tidaklah sulit. Namun, untuk seorang perempuan lemah seperti Kartini, panggilan akrabnya, hal itu butuh perjuangan berat nan panjang. Terlebih, sehari-harinya dia hanya penjual lontong sayur di desanya. Penghasilannya pun tidak seberapa. 

Perempuan ini menabung untuk biaya berangkat haji sejak 2007 atau sekitar sebelas tahun lalu. Uang tersebut dikumpulkan dari sebagian keuntungannya berjualan lontong sayur. Per harinya Rp 25 ribu. Uang sebesar itu tidak ditabung. Namun, dibayarkan arisan. 

Pada 2010, Kartini mendapat arisan sebesar Rp 28 juta. Uang inilah yang disetor untuk mendaftar menunaikan rukun Islam kelima. 

Setelah hampir 12 tahun menunggu, Kartini mendapat panggilan untuk beribadah di Baitullah. Sebuah mimpi yang sudah lama dibangun dengan ketelatenan dan keuletan yang luar biasa. Dia yang tergabung dalam kloter 43 dijadwalkan berangkat ke Saudi Arabia pada 31 Juli mendatang. 

Sayang, kebahagiaan memenuhi panggilan Allah ke Tanah Suci itu hanya bisa dijalaninya sendiri. Sang suami yang juga mencita-citakan berhaji sejak awal menikah lebih dulu dipanggil Sang Kholiq pada 1982 silam. Sejak itulah, Kartini berjuang sendiri menghidupi keluarganya dari jualan makanan. ‘’Doa saya menjadi haji yang mabrur,’’ tuturnya.

(bj/can/tok/ds/bet/JPR)

 
Jawa Pos Digital
E-Paper
Most Read
 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia