Rabu, 14 Nov 2018
radarbojonegoro
icon featured
Features
Guruh, Seniman Serbabisa asal Bojonegoro

Populerkan Melukis dengan Media Tisu  

Oleh: Wahyu Rizkyawan

Rabu, 18 Jul 2018 09:24 | editor : Ebiet A. Mubarok

TERUS BERKARYA: Hiwan saat melukis di sebuah keramik. Hiwan memopulerkan melukis di atas tisu. 

TERUS BERKARYA: Hiwan saat melukis di sebuah keramik. Hiwan memopulerkan melukis di atas tisu.  (Istimewa/Jawa Pos Radar Bojonegoro)

BOJONEGORO - Selain melukis dan membuat patung, Guruh Dwi Hermawan  mengembangkan hobi fotografi. Jika menggores di kanvas ibarat menulis, bidikan kamera adalah proses membacanya. Lukisan di atas botol bekas dan bingkai pigura yang terletak di ruang tamu itu sekilas biasa saja. Seperti lukisan dan hiasan lain. Namun, jika diperhatikan lebih saksama, ada perbedaannya. 

Gambar yang tersaji mengandung bulir serat cukup tajam. Seperti goresan yang berserat-serat. Serat yang terdapat di setiap gambar itu, bukan berasal dari cara goresan kuasnya. Melainkan dari bentuk kanvas tempat menggores kuas.  “Kalau diperhatikan secara saksama baru akan terlihat,” kata Guruh Dwi Hermawan selasa (17/7).

Pria akrab disapa Hiwan itu menceritakan, secara umum memang tidak ada perbedaan antara lukisan yang dia pegang dengan lukisan-lukisan lainnya. Tapi, jika dilihat lebih lama, tentu bakal terlihat perbedaannya. Yakni, pada struktur gambar. Hampir seperti tiga dimensi, setiap lukisan mengandung gurat yang unik. Dan itu bukan disebabkan teknik melukis. Melainkan dari kanvas yang digunakan. 

Hiwan menggunakan tisu sebagai kanvas lukis. Ya, tisu. Benda sepele yang kerap luput dari perhatian orang itu, bagi Hiwan menjadi bukan benda sepele lagi. Hiwan menyulap tisu menjadi kanvas lukis. Selain berusaha memanfaatkan benda-benda kurang mendapat perhatian masyarakat, Hiwan berkeyakinan jika tisu memiliki struktur unik. Sehingga, bisa memberi kontribusi pada hasil lukisan. 

“Tisu memiliki tekstur berserat. Sehingga memberi dampak unik saat menerima sapuan kuas,” ungkap pria asli Desa Panjunan, Kecamatan Kalitidu tersebut.  

Tidak seperti kanvas yang berpermukaan rata, permukaan tisu  mengandung serat dan motif beragam. Tentu, jika dikolaborasikan dengan sapuan cat, bakal memberi efek unik. Dan, yang lebih penting dari itu, tisu bisa diletakkan di media apapun. Ini menjadi alasan mendasar bagi Hiwan. Sejumlah media lukis seperti botol, pigura triplek, hingga tembok pun bisa dikolaborasikan dengan tisu. Hiwan mulai menggunakan tisu sebagai kanvas sudah beberapa tahun terakhir ini.

Kanvas dari tisu tersebut tidak dibiarkan polosan belaka. Sebab, dia rentan rusak saat terkena air. Karena itu, hampir setiap lukisan yang dia buat, selalu dilapisi klir atau melamin untuk memperkuat kesan tegas lukisan. 

Lukisan dengan media tisu memang saat ini belum begitu terkenal. Namun, dia percaya jika suatu saat banyak yang ingin mencoba. Harga kertas tisu tentu lebih murah daripada kanvas. Tinggal menyambung-nyambungkan saja, bisa menjadi kanvas berukuran besar. 

Selain berupaya memerhatikan hal-hal sepele, penggunaan tisu sebagai media kanvas bukan tanpa alasan. Pria pernah menjadi guru sekolah dasar itu mengaku, pikiran menjadikan tisu sebagai media lukis berawal saat sejumlah muridnya tidak memiliki buku gambar. Karena saat itu yang ada hanya tisu, dia pun mengajak murid-muridnya melukis menggunakan tisu. Dan dari sana, dia tahu jika tisu memiliki struktur permukaan yang unik. Di tambah lagi, tisu bisa diletakkan di media apapun. Tinggal tempel saja.  

“Sama-sama goresannya, hasil di atas tisu jauh lebih bagus daripada kanvas biasa,” imbuh dia. 

Lukisan dengan media tisu tentu bukan satu-satunya karya Hiwan. Sejak kecil, Hiwan memang akrab dengan dunia seni rupa. Dia menguasai sejumlah disiplin seni. Mulai patung, melukis berbagai media lukis, hingga fotografi dia kuasai. Lulusan Sekolah Menengah Seni Rupa (SMSR) Jogjakarta pada 1998 itu mampu menggeluti berbagai bentuk seni rupa sekaligus. 

Hiwan pertama kali mengenal dunia seni justru dari seni patung tanah liat. Sampai saat ini, Hiwan masih membuat berbagai jenis patung dari tanah liat. Bahkan, karya-karyanya sudah terjual di sejumlah kota besar. 

Selain membuat patung tanah liat, dia juga membuat gambar di media kaca, batok kelapa, hingga membuat diorama instalasi. Berbagai macam disiplin seni itu mampu dia kerjakan dengan media apapun. Sejumlah lukisannya pernah diikutkan pameran di Surabaya pada 2000, Bali pada 2002, dan Biennale Jogjakarta pada 2004. 

Selain melukis dan membuat patung, Hiwan juga mengembangkan hobi fotografinya. Baginya, apa yang dia bidik di kamera, sangat berdampak dengan goresan kuas di kanvas. Jika menggores di kanvas ibarat menulis, bidikan kamera adalah proses membacanya. 

Karya-karya fotografi Hiwan pun pernah mendapat apresiasi internasional. Saat diikutkan di kontes Filipina dan Italia, pernah menjadi hasil foto terbaik. Bahkan, pada 2017 lalu, salah satu fotonya masuk kategori 20 besar Photography of The World dari sebuah komunitas fotografi berbasis di Amerika Serikat. 

(bj/zky/nas/bet/JPR)

 
Jawa Pos Digital
E-Paper
Most Read
 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia