Rabu, 14 Nov 2018
radarbojonegoro
icon featured
Features
Guru Sekaligus Asisten Pelatih Persibo

Andik Cahyo, Kembangkan Sport Science Demi Kemajuan Atlet Bojonegoro

Oleh: Bhagas Dani Purwoko

Selasa, 17 Jul 2018 06:40 | editor : Ebiet A. Mubarok

KEMBANGKAN PERSIBO: Andik Cahyo Pratomo, guru olahraga sekaligus asisten pelatih Persibo yang mengembangkan sport science.

KEMBANGKAN PERSIBO: Andik Cahyo Pratomo, guru olahraga sekaligus asisten pelatih Persibo yang mengembangkan sport science. (Istimewa/Jawa Pos Radar Bojonegoro)

BOJONEGORO - Pasca menempuh pendidikan kepelatihan olahraga di Unesa empat tahun silam, Andik Cahyo Pratomo memang bertekad mengabdikan ilmunya di Bojonegoro. Kerap bawa tim sepak bola atau futsal SMPN 5 Bojonegoro juara dan kini ingin bawa Persibo naik kasta ke Liga 2.

Tubuh kurus berwajah kalem sangat identik ketika bertemu pertama kali dengan seorang pemuda asal Desa Mulyoagung, Kecamatan Bojonegoro, yang sangat memiliki renjana di bidang olahraga. Pertemuan itu di sebuah warung kopi di perempatan Dusun Mlaten, Desa Campurejo, tepat 45 menit sebelum kickoff Piala Dunia antara Prancis melawan Kroasia pada (15/7) malam lalu. Pria kurus itu sedang duduk santai mengenakan jaket warna putih sambil sesekali menyesap kopi hitamnya.

Andik Cahyo Pratomo, namun kawan-kawan sebayanya menyapanya dengan panggilan Liwa. Kata dia, panggilan Liwa sejak dia masih duduk di bangku SD, ketika sedang demam sinetron Angling Dharma di televisi. “Dulu kan di sinetron itu ada yang namanya Suliwa sebagai tangan kanan Prabu Angling Dharma, mungkin dianggap mirip dengan pemerannya atau bagaimana, akhirnya saya sejak saat itu dipanggil Liwa,” tuturnya sambil tertawa.

Obrolan pun berlanjut pada kesibukan-kesibukan yang dijalani oleh Liwa. Sosoknya pertama kali terkesan pendiam, namun ketika diajak mengobrol, Liwa termasuk asyik orangnya. Dia pemikir dan suka sekali menawarkan ide-ide segar kepada orang-orang di sekelilingnya. Jauh sebelum lulus kuliah, pria kelahiran 1990 itu sudah menjadi asisten pelatih tim sepak bola Lima dari SMPN 5 Bojonegoro pada 2012. Lama kelamaan, dirinya pun menjadi pelatih tim tersebut.

Salah satu prestasi kebanggaannya ialah mengantarkan tim sepak bola SMPN 5 Bojonegoro menjadi juara 1 se-Kabupaten Bojonegoro lalu bersaing tingkat provinsi dengan hasil juara harapan 1 pada 2013 silam. Saat itu, dia melatih saat eranya Hanis Sagara yang kini menjadi pemain timnas U-19 dan Bali United. Kini sudah tidak pernah ada kejuaraan seperti itu, jadi tim sepak bola itu menjadi tim futsal. “Kalau futsal tingkat kabupaten, tim Lima alhamdulillah selalu menang,” ujarnya. Baru-baru ini Liwa juga menjadi pelatih tim futsal asal Tuban yang bernama North Sea.

Tak berhenti di situ, karir kepelatihan Liwa terus berkembang pesat. Apalagi pada ajang Liga 3 tahun ini, Liwa dipercaya oleh pelatih Persibo, Jordi Kartiko menjadi asisten pelatih. Dirinya mulai menjajaki tingkat lebih profesional. Sehingga, Liwa pun pada awal Juli lalu mengambil lisensi pelatih D Nasional di Asosiasi Kota (Askot) Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI) Surabaya. “Demi karir kepelatihan, makanya saya ambil lisensinya, nantinya tentu ingin mengambil lisensi pelatih C AFC dan seterusnya, karena saya memang ingin terus mengembangkan ilmu saya di bidang olahraga, khususnya sepak bola,” kata pria yang sangat menggandrungi Jose Mourinho itu.

Sebelumnya, kedekatan Liwa dengan Persibo memang sudah hangat sejak musim Liga 3 tahun lalu. Dia dengan kawan-kawannya kerap memberikan tes-tes terkait kelincahan, daya tahan tubuh, dan sebagainya kepada para pemain Persibo berdasarkan sport science. Karena itu, Jordi Kartiko optimistis dengan peran Liwa sebagai asistennya. Liwa pun begitu optimistis Persibo bisa lolos Liga 3 Zona Jatim, ke depannya tetap selalu menjunjung tinggi fighting spirit. “Optimisitis bisa menang lawan Persepon dan Blitar Poetra,” tuturnya.

Sport science itu sendiri ia kembangkan bersama kawan-kawannya. Dirinya mengajak agar para lulusan ilmu keolahragaan bisa dicurahkan ke dalam sport science. Dia pun akhirnya membentuk point sport science (PSS). Ada sekitar 5-10 orang di dalam PSS. Pengembangan terus dilakukan, bahkan dalam waktu dekat akan mendampingi 16 cabang olahraga (cabor) yang sedang menjalani pemusatan latihan kabupaten (puslatkab) untuk Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) 2019 mendatang. “Iya, kami dipercaya oleh KONI Bojonegoro dan KONI Jatim untuk memberikan pre-test dan post-test pada 16 cabor tersebut,” ujarnya.

Dia sudah membayangkan cabor-cabor di Bojonegoro sudah memiliki modui terkait sport science. Sehingga tiap atlet punya data lengkap. Apabila sudah memiliki data, seharusnya tidak ada lagi budaya atlet atau pemain titipan yang merupakan intervensi para orang tua atau wali yang ingin anak-anaknya bermain di sebuah kompetisi. Tentu hal ini sangat tidak bagus terhadap perkembangan atlet-atlet tersebut. “Sudah saatnya kita terus mengembangkan sektor olahraga, karena melihat antusias dan cabor baru juga tak kalah kerennya, sport sciece bisa jadi pelengkap,” pungkasnya. (*/nas)

(bj/gas/nas/bet/JPR)

 
Jawa Pos Digital
E-Paper
Most Read
 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia