Jumat, 14 Dec 2018
radarbojonegoro
icon featured
Bojonegoro

Pengawasan Sulit, Banyak Tempat Kos Mesum

Senin, 16 Jul 2018 06:20 | editor : Fa Fidhi Asnan

ilustrasi

Ilustrasi (Istimewa/Jawa Pos Radar Bojonegoro)

KOTA – Sering ditemukannya tempat kos mesum di Kota Bojonegoro diduga karena kurang terdatanya tempat kos. Selain itu juga belum ditegakkannya regulasi tentang pendirian dan laporan rutin perkembangan tempat kos. Kabid Pajak Daerah Badan Pendapatan Daerah (Bapenda) Bojonegoro Dilli Tri Wibowo mengatakan, sesuai peraturan daerah (Perda) Nomor 15 Tahun 2010 tentang Pajak Daerah, sebenarnya ada regulasi terkait pendirian dan aturan mendirikan tempat kos. Namun perda tersebut masih dipelajari dan belum diterapkan secara tegas.

“Ada regulasi di Perda Nomor 15 Tahun 2010, tapi memang di lapangan belum diterapkan secara tegas,” katanya minggu (15/7). Menurut dia, data yang dimiliki, ada 26 tempat kos  wajib membayar pajak. Jumlah di lapangan diperkirakan lebih banyak lagi. Sedangkan terkait kepatuhan membayar pajak, baru 60 persen patuh membayar pajak daerah. “Memang pengawasan terhadap tempat kos masih minim,” tukasnya.

Dia melanjutkan, jangankan melaporkan keberadaan tempat kos baru, pemilik tempat kos sudah terdata saja masih banyak yang awam bayar pajak. Sebab banyak yang tidak tahu jika jasa usaha rumah kos masuk kategori pajak hotel, yang harus membayar pajak. Selain itu juga banyak pemilik tempat kos tidak berada di tempat. Sehingga mempersulit pendataan.

“Didata saja sulit, apalagi memantau berbagai kegiatan di tempat kos tersebut,” ujarnya. Sementara itu Kasatpol PP Bojonegoro Achmad Gunawan mengatakan, tempat kos di Bojonegoro memang cukup banyak. Dan, mengalami peningkatan jumlah. Fakta itu mempersulit pemantauan. Sehingga, baik buruknya kegiatan di tempat kos, bergantung pemilik tempat kos. Sayangnya, dengan alasan bisnis, tempat kos mempermudah tamu datang.

Tidak selektif dan asal untung saja. “Masih banyak tempat kos dengan aturan longgar. Karena itu kami kerap mengimbau agar pemilik tempat kos lebih selektif,” katanya. Maraknya tempat kos dengan peraturan longgar, kata Gunawan,  disebabkan tingginya persaingan bisnis. Sebab, Bojonegoro banyak sekali tempat kos.

Sehingga, kompetisi untuk mendapat tamu pelanggan juga tinggi. Karena itu, banyak tempat kos tidak selektif menerima tamu. Itu menjadi sumber masalah, termasuk digunakan kegiatan mesum. “Masalahnya banyak tempat kos yang tidak selektif, jadi kerap ada kasus tempat kos dijadikan tempat mesum,” pungkasnya. 

(bj/zky/feb/faa/JPR)

 
Jawa Pos Digital
E-Paper
Most Read
 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia