Rabu, 14 Nov 2018
radarbojonegoro
icon featured
Features
Nasikhin, Guru SD Pembuat Kopi Biji Salak

Diminati Konsumen hingga Maroko dan Prancis

Selasa, 10 Jul 2018 07:11 | editor : Ebiet A. Mubarok

PRODUKTIF: Nasikhin yang meracik kopi yang terbuat dari biji salak. Kopi biji salak ini diminati karena mengandung obat herbal.

PRODUKTIF: Nasikhin yang meracik kopi yang terbuat dari biji salak. Kopi biji salak ini diminati karena mengandung obat herbal. (Bhagas Dani Purwoko/Jawa Pos Radar Bojonegoro)

BOJONEGORO - Tinggal di wilayah Desa Tanjungharjo, Kecamatan Kapas, yang banyak buah salaknya, membuat Nasikhin manfaatkannya untuk dijadikan kopi. Kopi tanpa mengandung kafein itu diminati sebagai obat herbal. Mari disimak perjalanan kopi biji salak.

Pertama kali menghubungi Nasikhin, tidak terlintas dia memiliki profesi lain selain berbisnis. Tetapi ternyata dia seorang guru SD. Tanpa basa-basi, membuat janji via WhatsApp, Nasikhin mengajak bertemu di tempat ia menjadi seorang guru SD, yakni SDIP Al Haromain, Kelurahan Ledok Wetan, Kecamatan Kota, Bojonegoro.  Kondisi sekolahnya sepi, karena memang masih libur sekolah. Hanya ada beberapa guru yang tetap melayani pendaftaran siswa baru.

Sejak 2013 dia meniti karir menjadi seorang guru SD. Belum lengkap rasanya apabila hanya mengandalkan gaji sebagai pegawai, kebetulan sejak menikah dirinya tinggal bersama mertuanya di Desa Tanjungharjo, Kecamatan Kapas. “Saat di Tanjungharjo, saya lihat banyak sekali buah salak, sayang kalau tidak dimanfaatkan secara maksimal,” tuturnya.

Nasikhin pun terus mengutak-atik ide-idenya untuk mengolah buah salak agar memiliki nilai jual yang lebih, namun tidak terlalu ribet dan memiliki jangka waktu keawetan yang lama. Awalnya dia sudah mencoba membuat manisan buah salak, lalu kurma buah salak, tetapi menurut dia kurang prospektif.

Lalu, bapak dua anak itu mulai mencari informasi dan inspirasi dari pengelolaan buah salak pondoh yang memang sudah populer terlebih dahulu. “Saya belajar lewat internet, buah salak pondoh di Kabupaten Sleman sudah dikembangkan  menjadi kopi, saya pun terinspirasi untuk membuatnya,” kata alumni santri Pondok Pesantren Abu Darrin itu.

Akhirnya, pada September 2016, Nasikhin memulai membuat kopi biji salak. Dirinya masih menggunakan selep dan penggorengan milik orang. Dia pun makin serius menggarap bisnisnya itu. Dia buat kemasan sebaik mungkin. Pemasaran pun dia gencarkan promo. Perlahan-lahan produknya pun dikenal khalayak.

Dia pun selalu rajin ikut pameran agar pangsa pasar makin luas lagi. “Hal yang berkesan ketika ikut pameran di Maroko beberapa bulan yang lalu, baru tiga hari sudah laris terjual, seingat saya bawa lebih dari 20 bungkus kopi biji salak,” kata pria kelahiran 1987 itu. Selain, imbuh dia, kopi biji salaknya juga dipromosikan hingga Prancis oleh temannya yang kebetulan tinggal di sana.

Dari segi rasa, kopi biji salak tidak ada pahitnya sama sekali, meski tanpa gula sekalipun. Ketika masih bubuk pun aroma salaknya begitu menyengat. Ketika diseduh warna juga gelap seperti kopi, bubuknya juga cepat mengendap.

Nasikhin juga menjelaskan kopi biji salak tidak mengandung kafein, justru mengandung polifenol yang berperan sebagai antioksidan. “Mampu mengurangi penyakit jantung, diabetes, darah tinggi, dan kanker,” terangnya. Sehingga, rata-rata konsumennya cocok dengan kopi biji salak untuk minuman kesehatan atau obat herbal.

Cara pembuatannya hampir sama dengan kopi pada umumnya, yakni biji salak dibelah dulu, lalu direbus, dijemur, disangrai, ditambah jahe sebagai penghangat, dan tahap terakhirnya diselep. Kopi biji salak pun siap dikemas dan dipasarkan. “Saya menggoreng atau menyangrainya menggunakan tungku kayu bakar, jadi rasanya tetap natural,” jelasnya.

Nasikhin juga menyiasati buah salak yang musiman dengan cara menimbun biji-biji salak ketika sedang musimnya. Jadi bisa digunakan sebagai stok beberapa bulan ke depan. Adapun tiap minggunya dia bisa memproduksi kopi biji salak 3-4 kali. “Sekali produksi, saya bisa menghasilkan sekitar 10 kilogram, jadi per minggunya sekitar 40 kilogram, lalu dikemas 150 gram per bungkusnya,” ujarnya. Harganya pun ekonomis, yakni Rp 20 ribu per bungkus.

Di lingkup Jawa Timur, kopi buatannya itu sudah dikenal warga Gresik, Surabaya, dan Nganjuk. “Luar Jawa juga sudah ada peminatnya, yaitu dari Kalimantan dan Bali,” ucapnya.

Dia masih akan terus mengembangkan usahanya tersebut, seperti pendaftaran mereknya atau inovasi dari segi varian rasa. Dirinya sudah mendaftarkan pangan industri rumah tangga (P-IRT) di Dinas Kesehatan Bojonegoro, serta usaha dagang.

“Selalu ingat petuah Mbah Maimoen Zubair untuk memiliki usaha selain menjadi seorang guru, karena banyak hadis juga mengatakan sembilan dari sepuluh pintu rezeki ada dalam perdagangan,” tegasnya. Usaha yang dirintisnya itu setidaknya bisa memperoleh laba bersih sekitar Rp 1 juta per bulan.

(bj/gas/nas/bet/JPR)

 
Jawa Pos Digital
E-Paper
Most Read
 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia