Kamis, 15 Nov 2018
radarbojonegoro
icon featured
Features

Sumantri, Pembuat Parabola dari Kipas Angin Bekas

Oleh: Amrullah A.M

Kamis, 12 Apr 2018 18:59 | editor : Ebiet A. Mubarok

KREATIF: Sumantri menunjukkan parabola dari kipas angin hasil rakitannya. Parabola ini dapat menangkap puluhan channel televisi. 

KREATIF: Sumantri menunjukkan parabola dari kipas angin hasil rakitannya. Parabola ini dapat menangkap puluhan channel televisi.  (Amrullah Ali Moebin/Jawa Pos Radar Bojonegoro)

FEATURES - Tangan kiri Sumantri, 46, tak bisa digerakkan sempurna. Ada semacam papan yang dililit dengan perban. Dia usai jatuh dari motor. Tangannya retak. Dalam waktu dekat tangannya akan dioperasi. Akibat tangannya yang sakit itu Sumantri tak lagi bisa bekerja maksimal. Siang itu, dia duduk di ruang tamu rumahnya dan berbincang dengan seorang teman. 

Mantri, sapaan akrabnya, sedang menjadi perbincangan tetangganya. Sebab, dia telah membuat parabola dari kerangka kipas angin bekas. Dia memulai karirnya di bidang parabola itu saat 1998. Waktu itu, dia berkesempatan bekerja di Bali. Dia bekerja yang tugasnya memasang antena parabola. Dari sanalah dia mulai menekuni pekerjaan tersebut. Secara telaten dia belajar tentang apa itu antena parabola. 

Bagaimana sistem kerjanya hingga komponen di dalamnya. Bekerja di Bali membuat dirinya banyak mendapat pelajaran. Bom Bali meledak. Keinginannya menikmati Bali lebih lama pun pupus. Bali sepi. Geliat industri pun tak seramai sebelumnya. Mantri memutuskan untuk pulang. 

Bekal keahlian dari Bali itulah membuat dia terus mengasah kreativitasnya. Dia tetap setia dengan antena parabola. Jasa memasang hingga menerima servis. Bahkan, termasuk menyediakan servis elektronik lainnya. 

Mantri bukan lulusan teknik elektro dari institut teknologi ternama. Tapi, dia hanya lulusan SD. Sadar keluarganya tak mampu membiayai sekolah. Dia memutuskan bekerja. Namun, dari daya kreativitasnya akhirnya muncul sebuah karya parabola dari kipas angin bekas. 

Dia menceritakan, awalnya dia mulai berpikir bagaimana mendapatkan hasil tambahan dari pekerjaannya sehari-hari. Sebab, sehari kadang dia mendapat tiga sampai empat orderan untuk memasang antena parabola. Itu pun dia membelikan antena di toko elektronik. Praktis, tak begitu banyak labanya. 

Dari hasil coba-coba dia pun memutuskan kerangka kipas angin digunakan untuk alat menangkap sinyal. Lalu sinyal dihantarkan ke alat yang sudah disediakan. 

“Wajan juga bisa. Tapi, kalau wajan nanti perlu alat las juga. Kalau pakai kipas angin kan tidak perlu di las,” terang dia. 

Untuk membuatnya, dia menggunakan kerangka kipas lalu dilapisi kasa kasar. Kemudian, ada sebuah pipa yang sedikit dibengkokkan. Di paralon itu dipasang alat khusus agar parabola bisa berfungsi. 

“Sehari biasanya bisa membuat sepuluh unit,” terang bapak dua anak ini.

Mantri melanjutkan, untuk mendapat kerangka kipas angin bekas dia harus menjalin kerjasama dengan para pengusaha barang bekas. Dari sana dia mendapatkan stok kerangka kipas angin. 

“Mulai banyak yang memesan itu karena saya unggah di Facebook,” ujarnya. 

Bahkan, dia harus melayani ke luar kota. Seperti Gresik, Lamongan, Tuban, dan Jombang. Dia tak hanya mengantar barang. Tapi, juga memasangkannya. Jadi, harganya bisa lebih murah dari parabola yang dikeluarkan pabrik. Yang terpenting, kualitas gambarnya tetap bagus. “Bisa sampai 40-an channel lokal,” kata dia. 

Sebenarnya, banyak yang meminta untuk dipasangkan. Tetapi, karena dia hanya dibantu dua karyawannya. Dia membatasi diri. Sebab, sehari bisa lebih dari lima titik untuk minta dipasangkan. “Saya memulainya sejak Januari lalu,” ujarnya. 

Menurutnya, lambat laun pasti akan ada orang lain yang akan bisa membuat hal yang sama. Tapi, baginya itu tidak menjadi masalah. Sebab, pekerjaan siapa saja bisa meniru. Namun, rezeki tidak bisa ditiru. Karena sudah ada yang mengatur sang pemilik jagat ini.

(bj/aam/nas/bet/JPR)

 
Jawa Pos Digital
E-Paper
Most Read
 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia