Sabtu, 15 Dec 2018
radarbojonegoro
icon featured
Ekonomi Dan Bisnis

Pengembang “Direpotkan” Hunian Subsidi

Selasa, 13 Mar 2018 14:00 | editor : Ebiet A. Mubarok

MENGUASAI PASAR: Salah satu kompleks perumahan subsidi di Tuban. Kini perumahan murah tersebut terus merajai pasaran.

MENGUASAI PASAR: Salah satu kompleks perumahan subsidi di Tuban. Kini perumahan murah tersebut terus merajai pasaran. (Yudha Satria Aditama/Jawa Pos Radar Tuban)

BISNIS – Perumahan murah masih menjadi sasaran konsumen untuk membeli unit rumah dalam beberapa tahun terakhir. Namun, di sisi lain perumahan program subsidi pemerintah justru membuat developer atau pengembang kelimpungan. Sebab, kini konsumen beramai-ramai membeli rumah subsidi tersebut. Akibatnya, hunian reguler kian sepi peminat.

Istiqomah, marketing salah satu perumahan mengatakan, diantara kompleks perumahan yang dijual pengembangnya, yang paling laris sekarang ini justru yang bersubsidi. Sebab, konsumen rumah reguler di Tuban sejauh ini baru kalangan karyawan BUMN, industri, dan pengusaha.

Sementara konsumen rumah subsidi lebih luas. ‘’Subsidi cepat laku, sehingga terus ada perluasan wilayah untuk kompleks perumahan subsidi baru,’’ kata dia.

Wanita yang akrab disapa Isti itu mengatakan, kini banyak pengembang baru yang mencari peluang dengan mendirikan perumahan reguler dan subsidi.

Pilihan tersebut dirasa menjadi salah satu solusi agar konsumen perumahan tetap stabil. Sebab, perumahan subsidi cukup ketat dalam menyaring konsumennya. Sehingga, konsumen yang tidak bisa membeli perumahan subsidi masih bisa memilih hunian reguler. 

Edi Muslim, pengembang lain mengaku enggan mendirikan rumah subsidi. Faktornya karena rumah subsidi hanya menghasilkan laba sedikit.

Meski pembelinya lebih banyak, namun perputaran uangnya lebih lama. Karena itu, pihaknya memilih mendirikan rumah reguler di kota lain. “Di kota-kota besar, rumah reguler masih prospektif. Sekarang sedang mengincar daerah pinggiran Surabaya,” ujar dia.

Pria jebolan Universitas Gajah Mada (UGM) Jogjakarta itu menjelaskan, laba tiap unit perumahan subsidi bagi pengembang hanya setengah dari laba rumah reguler.

Ibaratnya, jika menjual 2 atau 3 rumah subsidi labanya setara dengan menjual 1 unit rumah reguler. “Kalau dihadapkan pilihan seperti itu, saya mending menjual satu perumahan reguler, lebih efektif waktu,” tambahnya.

(bj/dka/yud/ds/bet/JPR)

 
Jawa Pos Digital
E-Paper
Most Read
 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia