Selasa, 26 Mar 2019
radarbojonegoro
icon featured
Features

Faiq, Petani Kambing – Domba yang Sukses di Masa Muda

23 Januari 2018, 11: 32: 40 WIB | editor : Ebiet A. Mubarok

MUDA DAN SUKSES: Faiq Nailul Irhasy saat menggendong salah satu kambing miliknya.

MUDA DAN SUKSES: Faiq Nailul Irhasy saat menggendong salah satu kambing miliknya. (M. Suaeb/Jawa Pos Radar Lamongan)

Berbagai limbah pertanian yang selama ini dibuang petani, dimanfaatkan Faiq Nailul Irhasy untuk pakan ternaknya. Dia mudah mendapatkan berbagai limbah pertanian itu karena petani diberi pupuk organik dari kotoran ternak.

-----------------------------------------------

MUHAMMAD SU’AEB, Lamongan.

-----------------------------------------------

MURAH senyum dan mudah bergaul.

Itulah sekilas penampilan Faiq Nailul Irhasy, pemuda Kota Lamongan yang kini menjadi peternak sukses karena memiliki ratusan domba dan kambing yang diternak di kandangnya di Kecamatan Sambeng.

Dia sengaja memilih lokasi di pedesaan karena lahan di perkotaan sekitar tempat tinggalnya, Jalan Sunan Giri Lamongan, sudah padat penduduk.

Selain itu, suasana pedesaan lebih tenang, sehingga cocok untuk peternakan.

‘’Di kota terlalu bising, untuk pakan juga mudah di desa,’’ tuturnya sambil duduk kursi bundar di salah satu kafe di Lamongan.

Lahannya seluas sekitar 1 hektare tidak hanya didirikan untuk kandang kambing dan dombanya.

Juga ada bangunan khusus pakan ternak.

Salah satu kunci beternaknya, harus ada ketersediaan pakan. 

Selama ini, Faiq tidak hanya memanfaatkan limbah pertanian petani padi untuk diolah menjadi pakan.

Juga, limbah tanaman kangkung yang sudah mengering, bungkil jagung, kulit kedelai dan kacang tanah.

‘’Limbah pertanian itu kemudian digiling pakai coper (mesin pencacah),’’ tuturnya.

Faiq memertimbangkan kandungan gizi sebelum memberi pakan ternaknya.

Di antaranya, pakan harus mengandung protein, serat, dan karbohidrat.

Pakan ternak kambing dan domba itu harus seimbang.

Jika kandungan gizi tidak seimbang, maka akan berdampak pada ternak tidak sehat dan mudah terserang penyakit.

Selain itu, perkembangan ternak juga akan lambat. Sehingga, bisa menambah biaya produksi.

‘’Beberapa jenis limbah pertanian setelah digiling kemudian dicampur jadi satu,’’ jelasnya.

Selama ini, Faiq mencari pakan saat musim kemarau.

Saat musim itu, banyak limbah pertanian yang kering dan bisa disimpan dalam jangka waktu yang cukup lama.

Untuk menyimpan pakannya itu, dia membangun bangunan seluas sekitar 12 x 6 meter.

Di bangunan tersebut juga terdapat alat coper untuk menghaluskan berbagai limbah pertanian. 

Selama ini, dia bekerjasama dengan para petani.

Mereka yang memiliki limbah pertanian cukup banyak, diberi Faiq kotoran ternaknya untuk pupuk organik.

Dengan system tersebut, para petani senang dan menawarinya untuk mengambil limbah pertaniannya.

‘’Jadi saling menguntungkan,’’ tuturnya.

Setiap harinya, Faiq membutuhkan pakan sekitar 350 kilogram (kg).

Hitungannya, seekor domba atau kambing membutuhkan pakan sekitar 1 kg setiap harinya.

Sedangkan untuk minum ternak, dia memilih hanya air tanpa campuran dedak.

Sebab, dalam pakan sudah terkandung beberapa gizi yang dibutuhkan ternak.

(bj/msu/yan/bet/dka/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia