Kamis, 15 Nov 2018
radarbojonegoro
icon featured
Features

Ahmad Wibisono Pendiri Panti Asuhan Pertama di Bojonegoro

Senin, 20 Nov 2017 06:30 | editor : Ebiet A. Mubarok

pendiri panti asuhan pertama

SANTAI: Pasangan Ahmad Wibisono dan istri duduk santai di rumahnya. Di rumah Ahmad Wibisono itulah panti asuhan pertama di Bojonegoro berdiri.   (Rika Ratmawati/Radar Bojonegoro)

Hidup sederhana, selalu dipupuk dalam keluarga bahagia Ahmad Wibisono beserta istri. Dikaruniai sepuluh anak dan 27 cucu membuat pasangan kakek nenek ini merasa semakin lengkap dalam menjalani sisa hidupnya. Bahkan, keduanya tidak pernah lupa untuk menebar kebahagiaan kepada siapapun yang membutuhkan.  

-----------------------------------

RIKA RATMAWATI, Bojonegoro

-----------------------------------

Rumah berwarna hijau muda itu terlihat begitu tenang dan damai, meski sudah mengalami sejumlah perubahan bangunan beberapa kali. Namun rumah tua tersebut tetap mempertahankan adat Jawa dari model atap dan pintunya. 

Di rumah keluarga Ahmad Wibisono, Jalan Arif Rahman Hakim Bojonegoro inilah pantai asuhan pertama muncul di Bojonegoro. Dengan teduh kedua orangtua ini mulai gamblang menceritakan berbagai pengalamannya mendirikan panti asuhan. 

Puluhan remaja putra putri di halaman depan tersebut merupakan anak asuh dari keluarga Ahmad Wibisono. Sejak 1995, keluarga ini sudah memiliki jiwa sosial tinggi. Meski keduanya sudah di karuniai 10 anak, tidak lantas membuat mereka lupa akan kewajibannya bersosial.

Bahkan, masing-masing orangtua keduanya selalu berpesan bahwasanya setiap rizki yang diperoleh ada hak orang lain didalamnya. “Itu selalu diingat hingga sekarang,” ujar pria (87) tersebut. 

Pensiunan pengawas Kanwil Kemenag Jawa Timur pada masanya ini, memiliki loyalitas tinggi terhadap pekerjaan. Sebagai pengawas pendidikan, dia sangat miris melihat kondisi anak-anak kurang beruntung di pelosok desa. Sehingga hatinya tergugah untuk mengulurkan tangannya dan merangkul anak-anak tersebut. 

Bahkan kala itu, sebelum dirinya beserta ketiga temannya, Maskun, Muhaimin, dan Hamid mendirikan sebuah yayasan. Dia beserta istri sudah terbiasa menyambangi berbagai pelosok Bojonegoro hingga Jember dan Pacitan untuk merangkul anak-anak yatim-piatu tersebut. 

Kunjungannya tersebut semata-mata untuk berbagi dengan anak tersebut, supaya mereka tidak merasa hidup sendiri. Sehingga mereka bersedia menjadi orangtua angkat dengan menyekolahkan dan merawat layaknya anak kandung. 

Tidak ada keraguan dalam hatinya selama mengulurkan tangan bagi anak-anak  kurang beruntung tersebut. Bahkan setiap uluran itu selalu di selipkan doa dan kebanggaan bahwasanya satu anak negeri sudah diselamatkan pendidikannya. “Paling penting itu pendidikan, moral dan akhlaq akan terbangun dengan sendirinya,” ujar mantan Ketua PGA Bojonegoro tersebut. 

Bertahun-tahun menjadi orangtua asuh bagi sejumlah anak diberbagai pelosok membuatnya tersentuh untuk mendirikan sebuah yayasan. Dengan begitu, mereka bisa lebih mudah mengawasi anak-anak karena lokasinya satu atap. Sehingga dia mulai mengajukan persyaratan untuk mendirikan yayasan tersebut, dan dibangun ditanah milik pribadi. 

Masa pensiunnya dinikmati bersama keluarga dan 40 anak asuhnya. Keceriaan dan kebahagiaan selalu terbangun setiap harinya, karena mereka selalu mensyukuri apapun nikmat Allah. Selain itu, anak-anak kandungnya tidak pernah merasa cemburu atau marah ketika orangtuanya membangun kedekatan dengan anak lain. Bahkan, tidak sedikit dari anak angkat tersebut justru bersahabat dengan anak kandung beliau, karena intensitas bertemu sangat sering. 

Anak-anak kurang beruntung tersebut dikelompokkan menjadi empat, yatim piatu, yatim, piatu, dan tidak mampu. Selama enam tahun sejak panti asuhan berdiri, keempat sahabat ini bahu membahu untuk membangun suatu yayasan dari kantong pribadi.  Selain itu, uluran tangan sejumlah dermawan juga terus datang karena rezeki anak yatim dan piatu memang banyak. Dia selalu berpedoman bahwasanya seluruh rizki titipan Tuhan. 

Anak-anak tidak beruntung tersebut hanya satu dari sekian banyak kenikmatan di dunia ini. Sehingga, kewajiban sebagai orang dengan kelebihan materi untuk memberikan hak mereka supaya tidak ada perbedaan kelas sosial. Tetapi, tidak sedikit dari mereka justru memanfaatkan kekurangan oranglain untuk mengelabuhi para petinggi rakyat. Semata-mata hanya untuk mendapatkan materi berlebih, padahal tidak akan bisa abadi. 

Selama mengasuh yayasan, tidak jarang dia selalu dimanfaatkan sejumlah orang untuk meminta sumbangan. Bukan secara fisik, namun melalui nama pribadi ataupun yayasannya, namun karena niatan salah pasti akan selalu digagalkan. Sehingga, dia selalu menanamkan kepada seluruh anak-anaknya bahwasanya sehebat apapun mereka, jangan pernah mengunggulkan diri. Dan sesedih apapun jangan pernah merasa tidak beruntung dan menyesal.

(bj/rka/nas/bet/JPR)

 
Jawa Pos Digital
E-Paper
Most Read
 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia