Jumat, 18 Jan 2019
radarbojonegoro
icon featured
Kolom
Mahfud Ikhwan

Huda : Sang Legenda

16 Oktober 2017, 05: 20: 59 WIB | editor : Ebiet A. Mubarok

Mahfud Ikhwan

Mahfud Ikhwan (Penulis Novel, Asli Asal Lamongan)

“Choirul Huda meninggal, Mas,” pesan di ponsel itu terbaca begitu. Dikirim seorang teman wartawan sepakbola. Waktu di bawah pesan tertera 17:47:57. 

Tak ada perasaan apa pun ketika saya bertanya balik, “Di lapangan?”

Karena tak segera mendapat jawaban, saya membuka media sosial. Saya segera mendapati informasi serupa di kotak pesan saya. Kali ini dari rekan sekampung di Lamongan. Dan tak lama kemudian, lini masa halaman facebook saya sudah dipenuhi berita tentang meninggalnya Choirul Huda. Ucapan belasungkawa dan doa lalu-lalang.

Saya juga menulis ungkapan serupa. “Tanpa ragu saya akan bilang bahwa Choirul Huda, dari nyaris semua segi, adalah salah satu legenda terbesar dan ikon terpenting sepakbola modern Indonesia. Duka mendalam bagi sepakbola kita.”

Tapi, sejujurnya, sampai ungkapan itu saya tulis, duka dan itu hanya duka yang biasa saja. Tak lebih istimewa seperti perasaan kita manakala mendengar kabar tetangga jauh kita meninggal.

Saya memang punya sedikit jarak dengan Choirul Huda sebagai pribadi dan Persela sebagai sebuah institusi olahraga. Huda dan Persela muncul di kancah sepakbola Indonesia ketika saya justru sudah jauh dari kampung halaman dan relatif sudah bebal sebagai penggemar sepakbola. 

Di masa remaja, saya menahbiskan diri sebagai penggemar berat Mitra Surabaya, meskipun tak pernah menonton mereka langsung di Tambaksari. Sore ketika RRI Surabaya menyiarkan siaran pandangan mata pertandingan Mitra adalah sore saya libur dari main sepakbola. Saya akan menempelkan kuping saya di son radio saya. Lemari pakaian saya yang kecil dipenuhi oleh tempelan guntingan gambar Da Costa, Marzuki Badriawan, Gomes de Oliviera dan Hadi Surento. Dan tentu saja sang kiper, Hendro Kartiko. Mendengar berita pembubaran Mitra Surabaya adalah salah satu hal terburuk dalam perjalanan saya sebagai penggemar sepakbola. Meski kemudian jauh setelah itu saya menemukan penjelmaannya pada Mitra Kukar, perasan itu tak pernah bisa ditukar. 

Ketika warga Lamongan memiliki Persela untuk menjadi representasi kecintaan mereka terhadap sepakbola, saya merasa ketinggalan kereta. (Hal yang sama saya temukan pada teman-teman sebaya yang sudah kadung menambatkan hatinya pada klub lain yang lebih tua, Persebaya misalnya.) LA Mania menjadi sebuah subkultur baru yang begitu asing bagi saya, tapi sekaligus menarik. Saya harus belajar menjadi bagian dari itu.

Sebagai penggemar sepakbola, sebenarnya mudah menyukai Persela. Sebuah tim kecil yang liat, bermain dengan cara yang enak dilihat, dan selalu menjadi sekolah bagi banyak bakat bagus yang lahir untuk sepakbola Indonesia, Persela sangat gampang untuk menjadi tim kedua semua orang. 

Dan terutama karena ada Choirul Huda di bawah gawang mereka. 

Huda adalah makhluk langka di sepakbola Indonesia. Di tengah barisan para prajurit bayaran, pemain macam Huda, yang bersetia dengan satu klub di sepanjang karirnya, layak dimasukkan museum bahkan jika berita duka itu masih kita dengar berpuluh-puluh tahun yang akan datang. Ia akan bersanding secara sangat pantas bersama nama macam Paolo Maldini dan Ryan Giggs.

Tapi Huda bukan hanya pemain setia. Ia juga kiper yang bagus. Sangat bagus. Dan karena itulah kita tetap melihatnya bermain di level tertinggi sepakbola Indonesia. Dari musim ke musim. Mungkin hanya persoalan kemujuran saja jika kita tak pernah punya kesempatan yang cukup menyandang logo garuda di dadanya. Jika ada 10 pemain yang paling dihormati oleh pemain sesama pemain di sepanjang sejarah Liga Indonesia, Huda jelas menjadi salah satunya.

Tapi, bahkan dengan keberadaan Huda tak membuat saya bisa dengan mudah mengidentikkan diri dengan Persela. Saya pernah menulis pengalaman menonton langsung pertandingan Persela. Saya tahu, saya saya menyukai Persela—dan Huda—sebagai penggemar sepakbola, bukan sebagai fans.

Tapi... tunggu.

Saya tak harus menjadi penggemar Persela untuk ikut berduka atas kepergian Huda. Saya bahkan yakin, mungkin saya tak harus menggemari sepakbola untuk turut kehilangan atas sosok tinggi besar yang sangat mudah ditemukan ketika kita menonton siaran sepakbola Indonesia ini. Saya hanya perlu jadi manusia.

Saya mulai gemetar ketika ucapan saya mendapat sambutan dan ucapan penuh duka dari teman-teman yang saya tidak kenal, dan saya yakin tak semuanya penggemar Persela. Dan saya mulai berderai air mata ketika seorang teman di kampung mengirim video menyambutkan jenazah oleh para LA Mania. Pekik takbir bersahutan. Tapi yang lebih terasa adalah kehilangan yang mendalam. Pundak saya terguncang.  

Ya, para LA Mania jelas kehilangan kapten, legenda, ikon, bendera, bahkan boleh jadi jantung hati mereka. Tapi lebih dari itu, sepakbola kita kehilangan salah satu dari sedikit hal hebat dari banyaknya cacat-cela dalam sepakbola kita. Kita kehilangan manusia hebat bernama Choirul Huda.

(bj/*/nas/bet/JPR)

 TOP
 
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia