Kamis, 15 Nov 2018
radarbojonegoro
icon featured
Kolom
Zahidin

Jalan Jalan ke Turki (9)

Rabu, 11 Oct 2017 05:10 | editor : Ebiet A. Mubarok

Direktur Jawa Pos Radar Bojonegoro

zahidin (Direktur Jawa Pos Radar Bojonegoro)

BELUM hilang sensasi naik balon di atas ketinggian 5.000 meter, saya dan rombongan diajak keliling darat. Menuju Pasabag Valley Kappadokya. Lembah di antara dua gunung. Lembah yang terbentuk karena pahatan vulkanik.

Topografi Kappadokya  bak dataran di bulan karena kering dan gersang. Ada dua gunung vulkanik. Sekitar tiga juta tahun silam, gunung itu meletus hebat. Menyemburkan lava. Batu vulkaniknya memenuhi kota.

Letusan gunung berapi membuat formasi bergunung-gunung dengan batu-batu lancip menghunjam ke angkasa. Angin, hujan, dan berbagai musim yang silih berganti memahat dinding-dinding lava menjadi berbagai bentuk.

Sepanjang mata memandang yang tampak pahatan-pahatan alam yang luar biasa. Bentuknya unik-unik. Dan sangat indah.

Ada yang berbentuk seperti cerobong asap alias Pasabag Valley. Ada bebatuan yang lancip dan di atasnya nangkring sebongkah batu itu bentuknya mirip seperti jamur. Tak hany satu, beratus-ratus mirip cendawan.

Ada yang menyerupai kelamin lelaki. Satu lembah begitu semua. Lembah ini dinamakan Love Valley. Karena formasi bebatuan yang mirip penis.

Dan percayalah, formasi ini memang alami, bukan buatan manusia. Lagian gimana mahat batu-batu berbentuk itu besarnya segede gunung.

Ada pula yang mirip ibu sedang menyusui. Juga gunung-gunung kecil menyerupai tombak. Di hamparan lain, terdapat lembah disebut Pigeon Valley.

Ini jadi salah satu lokasi wajib kunjung. Di sini dihuni ribuan burung merpati. Kita bisa memberi makan dengan duit lima lira dapat tiga bungkus.

Saya lagi-lagi terpesona dengan panorama yang mungkin paling aneh.Yakni, di Devrent Valley. Di sini batu-batu berbentuk aneka binatang. Ada unta, ular, dan lumba-lumba. Semuanya alami.

Yang menarik adalah yang berbentuk mirip unta. Warna batunya agak cokelat keabuabuan. Mirip warna kulit unta. Dipagar kayu setinggi setengah meter. Mengelilingi batu unta itu. Mencegah pengunjung menaikinya.

Ini spot menaruk selfie. Foto dengan background batu unta sangat indah. Semua rombongan kendaraan wisatawan berhenti di sana. Berfotoria.

Berselfie gembira. Bahkan, berbarengan dengan rombongan saya, ada sepasang pengantin sedang mengambil foto pre-wedding. Dengan latar belakang batu unta dan ratusan batu berbentuk yang bertebaran di sekitarnya. Pasabag Valley menjadi destinasi wisata unggulan di Kapadokya.

Di sini, batu-batu menjulang tinggi yang dahulu dihuni oleh para pertapa. Mereka tidak mau tinggal di puncak batu. Melainkan melubangi batu dari bawah dan membuat ruangan setinggi 10 hingga 15 meter di atas tanah.

Mereka hanya turun saat hendak mengambil air atau makanan. Batu-batuan di Pasabag berbentuk seperti jamur dan ada beberapa batu yang memecah menjadi seperti beberapa menara yang berjajar.

Bukan hanya wisatawan mancanegara. Warga lokal Turki juga suka berwisata ke Kapadokya. Selain menikmati batu berbagai bentuk yang mengagumkan, pengunjung juga bisa merasakan sensasi naik unta. Milik masyarakat setempat.

Di hamparan bebaturan Pasabag Valley, saya sempat terkejut dengan ini. Di sebagian dinding batu berbagai bentuk itu terdapat lubang. Seperti pintu dan jendela. Ternyata itu rumah. Mirip dengan cerita dalam Alquran tentang kaum Tsamud, umatnya Nabi Sholeh. Yang membuat rumah-rumah dalam gunung.

Saya pun bertanya kepada Pemandu Keliling Turki Ali Ekinci. Apakah mereka bagian dari Kaum Tsamud? Jawabnya tidak. Ataukah ada hubungannya? Misalnya, mereka yang berada di Semenanjung Arab Saudi itu migrasi ke sini? ‘’Tidak. Saya tidak ada penjelasan untuk ini,’’ katanya.

Penghuni rumah-rumah dalam gunung di Pasabag Valley mulai sekitar 10 ribu tahun lalu. Untuk berlindung dari kejamnya cuaca yang berubah-ubah. Mereka memilih tinggal di dalam batu. Melubangi dinding batu vulkanik. Dibuat tempat tinggal. ”Berapa pun suhu di luar, di dalam rumah batu tetap hangat. Tak terpengaruh,” papar Ali.

Tak hanya membuat rumah di Pasabag Valley, penduduk Kappadokya juga membuat rumah di dalam tanah. Saking banyaknya, sampai disebut sebagai Kota Bawah Tanah. Namanya Saratli Underground City Masuk ke sini punya sensasi tersendiri.

Ini adalah sebuah kota kecil di bawah tanah. Ada 200 lebih rumah. Mampu menampung 25 ribu orang. Kota bawah tanah ini dibuat sekitar 2500 tahun silam. Dibuat oleh warga setempat dan kaum Nasrani. Untuk menghindari kejaran pasukan Romawi. Menghindari peperangan. Dan kejaran musuh agar tidak mati.

Mereka bisa tinggal di rumah-rumah bawah tanah itu dalam waktu lumayan lama. Bisa dalam hitungan bulan. Bisa juga bertahun-tahun. Tergantung situasi di luar. Para perempuan dan anak-anak sembunyi dalam rumah bawah ini saat perang.

Bagi yang tidak tahan nafas harus pinter-pinter bernafas. Bagi yang sakit pernafasan atau paru-paru juga harus hati-hati. Agar tidak pingsan atau kejadian yang tidak diinginkan. Sebab, rumah bawah tanah ini benar-benar di bawah tanah. Tapi, sebenarnya sih dalam gunung. Hanya atas ‘’gunung’’ itu sudah menjadi kota.

Begitu sampai di kawasan Saratli saya tertegun. Banyak pintu-pintu kecil di situ. Itulah pintu-pintu masuk rumah bawah tanah. Setiap pintu ukurannya hanya untuk satu orang. Selain sempit, pintu masuknya berupa lorong itu juga menurun. Saat masuk badan harus membungkuk. Atap lorong pendek. Tak ada daun pintu dari kayu atau besi. Mirip masuk lorong gua.

Namun, dalam beberapa langkah ada pintu sebenarnya. Pintu masuknya dari batu. Sama dengan dinding dan atapnya. Daun pintu dari batu itu bentuknya bulat. Berdiameter satu meter. Tebal sekitar 25 centimeter. Ada lubang di tengahnya. Selebar gagang tombak. Kalau ada musuh yang akan membuka paksa pintu batu ini, kaum lelaki yang ada di dalam akan menombak atau menusuknya dengan pedang lewat lubang pintu ini.

Pintu batu itu menggunakan teknologi sederhana. Bibir pintu sebelah kanan dilubangi selebar daun pintu yang bulat. Untuk menutup pintu cukup mendorongnya. Agar sulit dibuka dari luar, diganjal batu kecil di bawahnya.

Melewati pintu ini, sampailah di sebuah ruangan. Tidak besar. Sekitar 4 x 3 meter persegi. Ruangan pertama itu ternyata dapur. Ditaruh di ujung depan supaya asapnya langsung keluar saat masak. Tidak mulek ke seluruh ruangan lainnya.

Dari dapur, masuk lorong lebih dalam lagi. Tentu saja dengan posisi jalan masih menunduk. Sampailah di ruangan kedua. Khusus untuk kandang binatang. Yang dibawa pengungsi sembunyi. Luasnya kurang lebih sama dengan ruang pertama.

Lorong dan pintu dalam rumah bawah tanah ternyata bercabang-cabang. Di dinding dekat pintu setiap ruangan saya melihat ada lorong. Ukuran lebih kecil. Saat ada musuh atau terjadi peperangan, warga bisa masuk ke dalam rumah bawah tanah.

Caranya, lewat pintu terdekat dengan desanya. Lalu menyusuri lorong yang bercabang ke mana-mana. Sesuai yang diinginkan. Ketika ada musuh mengejar sampai ke dalam rumah bawah tanah, para pengungsi dengan cepat akan mematikan semua lampu yang menempel di dinding lorong. Lampu-lampu itu ditaruh cerukan dinding-dinding. Lampunya dinyalakan dengan minyak zaitun. Ketika gelap, musuh sudah tidak tahu ke mana arah larinya para penduduk.

Kemudian menyusuri lorong lagi. Menuju ruang ketiga. Tapi lebih pelan langkahnya. Sebab sempit dan menurun. Dan mulai agak sulit bernapas. Baru plong setelah sampai di ruang keempat. Yakni ruang untuk menyimpan sayur, buah, dan bekal yang lainnya.

Meski disimpan dalam waktu lama, sayur, buah, dan perbekalan yang lain tidak akan busuk. Karena suhu di dalam sangat sejuk. Tidak terpengaruh suhu di luar. Ini mirip dengan arsitek di Kervansaray, hotel para pedagang Jalur Sutra (Silk Road), baca edisi ke-7 seri tulisan ini. Meski di luar sedang musim panas atau musim dingin bersalju. Suhu di dalam tetap sejuk.

Saya penasaran. Apa gerangan yang membuat suhu dalam rumah bawah tanah itu sejuk. Akhirnya ketemu juga. Ada lubang seukuran lepek (alas cangkir) di salah satu ruangan itu. Lubang tersebut tembus sampai atap rumah batu. Jadi, meski rumah itu tertutup, masih ada sirkulasi udaranya. Ada ventilasinya.

Dari ruang penyimpanan ini, menuju uang keempat. Ukurannya lebih lebar. Ini untuk tempat tinggal. Bisa menampung ribuan orang. Meski rumah-rumah bawah tanah merupakan batu yang dilubangi, tapi di dalamnya ada tempat menyimpan air. Sejenis sumur. Itu ada di ruang kelima.

Sumurnya bukan bulat. Tapi berbentuk segi empat. Kelihatan airnya. Tepat di bawah terali besi. Agar orang tidak tercebur ke dalam. Ruang kelima itu terhubung langsung ke pintu keluar. Berada sekitar 25 meter dari pintu masuk.

Bagaimana cara membuat kota bawah tanah itu? Rumah itu digali secara manual. Pakai alat apa? Seadanya. Seperti ganco, sabit, dan sekop. Sebagai kenangan, ada sebuah ganco yang ditempel di dinding ruang tengah. (bersambung) 

(bj/*/bet/JPR)

 
Jawa Pos Digital
E-Paper
Most Read
 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia