Minggu, 24 Mar 2019
radarbojonegoro
icon featured
Kolom

Jalan Jalan ke Turki (4)

06 Oktober 2017, 04: 00: 59 WIB | editor : Ebiet A. Mubarok

Direktur Jawa Pos Radar Bojonegoro

zahidin (Direktur Jawa Pos Radar Bojonegoro)

Ya, di manakah itu? Apa di setiap masjid di Turki sedang dilanda kehebohan  salat subuh bak jumatan? Ini juga pertanyaan saya sebelum berangkat.

Bahkan ingin membuktikan tentang kabar itu. Plus membayangkan bagaimana suasana salat subuh yang tentu dahsyat tersebut.

Saat perjalanan di Istanbul, pemantu keliling Turki Ali Ekinci tak luput dari pertanyaan tersebut. Teman-teman direktur radar juga demikian. Bertanya, membayangkan dan ingin membuktikan bagaimana salat subuh di Turki.

BERSAMA IMAM: Direktur Radar Bojonegoro Zahidin bersama Imam Masjid Pasakoy Bolu, Turki, Orhan Onal, usai salat subuh.

BERSAMA IMAM: Direktur Radar Bojonegoro Zahidin bersama Imam Masjid Pasakoy Bolu, Turki, Orhan Onal, usai salat subuh. (Zahidin/Radar Bojonegoro)

Ali memberi angin segar. Bahwa salat subuh yang setara jumatan ada di Istanbul. Hanya, hari itu kita tidak bermalam di Istanbul. 

Di hari pertama itu, saya dan rombongan langsung menuju Bursa usai menikmati Istana Topkapi, Haga Shophia, dan Masjid Biru. 

Di Bursa kita bermalam. Ada masjid tak jauh dari Hotel Kervansaray, tempat kami menginap. Masjid itu ada diseberang jalan.

Menyatu dengan taman yang terdapat foto superbesar Presiden Turki Recip Erdogan dan bendera Negara.

Di Bursa saya ingin membuktikan tentang gembita salat subuh itu. Tapi, Ali Ekinci tidak bisa menjamin apakah akan ada salat seperti itu. ‘’Saya tidak tahu di sini,’’ katanya.

Dia hanya bilang bahwa umat Islam Turki rata-rata memakai bermadzhab Hanafi.  Menurut madzhab ini salat subuh yang utama bukan di awal waktu.

Tetapi sebaliknya di akhir waktu. Jadi, kalau waktu subuh di Turki jam 05.16, jangan berharap akan segera mendengar adzan.

Adzan akan dikumandangkan justru di akhir waktu. Yakni, sekitar pukul 06.00. ‘’Jadi, nanti setelah salat subuh, langit langsung terang,’’ kata Ali.

Oh ya, selisih waktu Turki dan Indonesia adalah empat jam. Lantaran masih hari pertama, saya sudah bangun jam 01.00 waktu Turki. Atau jam 04.00 WIB.

Dan, tidak bisa tidur lagi sampai subuh tiba. Meski sebenarnya  badan lelah luar biasa setelah perjalanan 19 jam dari  Indonesia (transit 4 jam di Singapura).

Ditambah sehari keliling Istanbul serta pergi ke Bursa. Selain itu, semangat ingin melihat suasana salat subuhnya. Saya buka jendela kamar hotel.

Kebetulan menghadap ke taman itu dan tampak menara masjid yang bersinar terang. Namun, suasana di seberang sepi.

Tak ada satu pun pejalan kaki. Kendaraan pun lewat bisa dihitung dengan jari. ‘’Ah, mungkin masih dini hari,’’ kata batin ini.

Padahal, saya sudah membayangkan pasti jamaah sudah berdatangan masuk masjid untuk tahajut atau dzikir di Masjid Sehrekustu itu. 

Saya akhirnya salat tahajut sendiri di kamar dan baca Alquran. Sesekali berhenti. Membuka jendela dan menengok ke arah masjid sana. Kondisinya sama. Sepi.

Itu saya lakukan terus menerus dengan jeda sekitar 30 menitan. Hingga akhirnya masuk waktu subuh jam 05.16. Dan, benar.

Meski smartphone saya sudah mengumandangkan adzan tanda waktu subuh tiba, tak ada suara apapun dari masjid itu. Saya juga tengok lagi jendela. Sepi.

Akhirnya saya kontak beberapa direktur radar di seberang kamar. Saya ajak untuk salat subuh. Sambil sama-sama ingin membuktikan bagaimana suasananya. 

Ada tiga direktur yang mau. Maka, kami berempat pun turun hotel. Menyeberang jalan yang sepi. Melewati taman yang sepi juga. Menuju masjid. 

Ada pagar di sisi selatan yang tutup. Pintu masjid pun tutup. Kami pun berkeliling mencari ‘’pintu utama.’’  Barangkali berada di timur, barat atau utara.

Kebetulan di sisi timur ada jalan. Mungkin dari situ pintunya. Namun, ternyata tidak ada pintu di situ. Hanya tembok masjid yang tinggi.

Kita lantas menuju utara tempat berdirinya mihrab. Barangkali ada pintu-pintu di situ. Eh, ternyata juga buntu. Lantas kami memutar ke barat. Saat akan berputar ke barat itu, adzan sudah berkumandang.

Suaranya enak, keras, dan menggema di sekitar masjid. Tak lama juga, suara adzan terdengar saling bersautan dari berbagai masjid. Benar kata Ali. Adzan subuh sekitar jam jam 06.00. Tepatnya, 05.48.

Dari barat masjid juga nihil pintu. Lantas kami berputar ke selatan lagi. Ah, pintu masjidnya terbuka. Pas sesaat adzan usai dilantumkan. Ada seorang petugas berkaos hitam membuka pintu itu. Lantas membuka pintu pagarnya. 

Kami pun masuk dan disambut dengan senyum lelaki itu. Meski sudah punya wudhu, kami memperbarui lagi wudhu di tempat wudhu depan masjid.

Setelah itu masuk masjid. Isinya kosong. Tak ada satu jamaahpun berada di dalam masjid. Sedangkan lelaki tadi masuk ruangan di belakang saf paling akhir. Lantas menutup pintu ruangan itu.

Setelah salat sunnah tahiyatul masjid (salat untuk menghormati masjid) dan sunnah qobliyah (salat sunah sebelum salat wajib), kami berempat saling pandang.

Kok sepi ya? Kami pun menoleh ke pintu masuk . Tak ada gelagat rombongan jamaah mau salat subuh.

Sambil berdzikir saya melihat arsitektur masjid itu. Indah sekali. Dihiasi aneka kaligrafi yang terdiri atas full keramik.

Mulai dari dasar hingga dalamnya kubah-kubah. Kaligrafi ayat Quran, lafal Allah, Muhammad, serta ornament-ornamen berwarna-warni.

Mata seperti tak terpuaskan mengaguminya. Sambil sesekali celingukan melihat pintu masuk. Untuk menanti jamaah meramaikan masji ini.

Alhamdulillah, sekitar lima menit kemudian ada satu jamaah masuk. Lima menit lagi ada satu jamaah masuk. Dan, dua menit kemudian ada juga jamaah masuk.

Satu yang pertama salat dua rakaat di sisi mimbar masjid. Dua lainnya selurus dengan kami di saf pertama.

Setelah semua usai salat sunnah, kami masih menunggu beberapa menit. Seperti saya, tiga jamaah asli Turki itupun juga saling toleh-menoleh. Seakan-akan sepakat apakah segera iqomah atau masih menunggu jamaah lagi.

Tak berapa lama, Sang Imam Masjid keluar dari biliknya. Mengenakan jubah dan surban besar berwarna putih dengan hiasan merah di tutup atasnya. Segera saja jamaah yang dekat mimbar melantumkan iqomah tanda waktunya salat wajib.

Sang imam lantas menuju mihrab. Memimpin salat dengan suara amat merdu. Dengan jamaah cukup kami berempat ditambah tiga jamaah penduduk setempat. Saf pertama pun tak sampai seperempatnya.

Lantas di mana lelaki berkaos hitam yang membuka pintu masjid? Lelaki itu tak lain adalah sang imam. Dia adalah penjaga masjid, muadzin, pembuka pintu dan menjadi imam salat.

Salat ala Hanafi ada sedikit perbedaan dengan lazimnya salat di Tanah Air. Yakni, soal bacaan Aamiin, usai Fatihah. Kalau kita mengucapkan Aamiin dengan suara keras, di Turki cukup di dalam hati saja.

Maka, saat imam selesai membaca fatihah, hanya kami berempat saja yang bersuara.  Suaranya pun menggema di masjid itu.

Lantaran akustiknya luar biasa bagusnya. Sementara imam dan tiga jamaah warga Turki diam saja. Akhirnya, saat rakaat kedua kita ikut diam juga. Salat subuhnya tidak pakai qunut.

Usai salat lantas berdzikir. Yang memandu bukan imam. Tapi, jamaah yang iqomat tadi. Dia memandu dzikir cukup Subanallah 33 kali, Alhamdulillah 33 kali, dan Allahu Akbar 33 kali.

Ditutup dengan bacaan lailaha illahu wahdahu la syariikalah sampai akhir. Tanpa tahlil 33 kali.

Baru setelah itu imam berdoa. Doanya juga dalam hati. Tidak terucap di lidah. Makmumnya juga mengamini dalam hati.

Tanpa suara maupun isyarat mulutnya.  Kemudian ditutup sang imam melantumkan 2-5 ayat Alquran. Suaranya merdu seperti suara imam di Masjidil Haram, Makkah. 

Usai salat kamipun bersalam-salaman. Dan keluar masjid, langit sudah terang. Berfoto-foto di taman dengan background Recip Erdogan tanpa perlu memakai blitz.

Halsama saya alami  saat salat subuh di Masjid Pasakoy Bolu, belakang Hotel Hampton Marriot, tempat kami menginap pada hari kelima keliling Turki.

Bahkan, di masjid itu, makmumnya hanya tiga. Saya dan dua orang Turki saja.

Lantas di mana salat subuh bak jumatan berada? Menurut Ali Ekinci, itu ada di Istanbul. Di Masjid Jamik Sultan Alfatih. Sayang, sampai akhir perjalanan kita tidak bisa mampir salat subuh di situ. (bersambung)

(bj/*/bet/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia