Radar Bojonegoro

Konsumsi Obat Keras Masih Tinggi

KOTA - Raut muka Tutik Agustiningsih berubah sendu seketika melihat ibunya enggan minum obat dari dokter. Padahal, obat tersebut seharusnya diminum secara rutin untuk mengurangi rasa sakitnya. 

Fakta tersebut bagian kecil banyaknya masyarakat mengonsumsi obat keras tanpa ada resep dokter. Kebanyakan mereka meminum obat meski hanya rekomendasi teman atau keluarga. Seharusnya, mengonsumsi obat memperhatikan kegunaan, efek samping, dosis, dan jenis obat melalui kode logo.

 

Menurut Tutik, ibunya lebih mempercayai pengobatan tradisional atau alternatif untuk menyembuhkan sakitnya. Meski, berbagai usaha te­lah dilakukan untuk membujuk sang ibu supaya bersedia minum obat. 
’’Tapi, ibu lebih memilih obat di toko karena rekomendasi teman,” katanya kemarin (18/5). 

Tutik menjelaskan, tingginya peredaran jual beli obat tanpa resep dokter cukup berpengaruh. Terlebih masyarakat masih sering mengonsumsi obat-obat keras diperoleh di toko. Sebab, konsumen cenderung memperhatikan kesembuhan sesaat tanpa memperhatikan efek sampingnya. 

Kepala Subdirektorat Penggolongan Obat Rasional Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Heru Sunaryo mengatakan, kasus di lapangan masih tinggi terkait penyalahgunaan obat. Sehingga, kewajiban dinas kesehatan (dinkes) mengingatkan kepada pasien. 

1
2

BERITA LAINNYA
Tulis Komentar