Radar Bojonegoro

Inilah Bangku Sekolah Peninggalan Belanda yang Tetap Dipakai Siswa

Bangku dan dingklik buatan zaman Belanda masih digunakan kegiatan belajar mengajar di SDN Mlideg, Kecamatan Kedungadem. Bangku terbuat dari kayu jati ini masih kuat digunakan siswa di ruang kelas.

Wartawan: AULIA RISQI ROHMATIN

KABUT masih menghalangi penglihatan pengendara yang melintasi jalan menuju Desa Mlideg, Kecamatan Kedungadem, pagi itu. Udara dingin seolah mengusik diri tidak beranjak pergi. Namun, semangat anak-anak berangkat ke sekolah tak surut, meskipun jalan masih basah karena sisa guyuran hujan semalam.

Memasuki gerbang sekolah, terlihat bangunan kelas baru saja direnovasi. Bau cat tembok masih terasa menyengat hidung, menambah semangat para siswa menuntut ilmu. Namun, ada yang menarik dari SDN di pinggiran ini. Sudut sekolah, tepatnya di ruang kelas V terdapat bangku bersejarah peninggalan kolonial Belanda.

Kepala SDN Mlideg Kecamatan Ke dungadem Sri Aminah, menuturkan, bangku di ruang kelas lima sudah ada sejak zaman berdirinya sekolah pada 1911 lalu. Saat ini, bangku dan dingklik (kursi panjang dari kayu) peninggalan Belanda itu berjumlah delapan pasang. ”Pada 1911 pertama berdirinya,
sekolah ini masih disebut sekolah rakyat (SR) yang dibangun pada masa penjajahan Belanda

SR merupakan sekolah bentukan Belanda hanya terdiri dari tiga kelas, yaitu kelas I, II, dan III,” ujarnya kepada Jawa Pos Radar Bojonegoro. Zaman dahulu, SR Desa Mlideg merupakan satu-satunya sekolah di daerah selatan Kedungadem. Sehingga, siswa SR berasal dari berbagai desa seperti Desa Kendung, Panjang, Kesongo, Kecamatan Kedungadem. Ada juga siswa dari Desa Sembung, Kecamatan Sukorame, Lamongan.

”Karena SR merupakan cikal bakal terbentuknya SDN Mlideg, maka bangku peninggalan Belanda ini masih dipertahankan. Meski dengan jumlah yang sedikit,” ujar guru mengajar di SDN Mlideg sejak 1985 itu. Pengubahan SR menjadi SDN Mlideg pada 1 Agustus 1963. Di daerah selatan Kecamatan Kedungadem, didirikan dua SDN yaitu SDN Mlideg dan SDN Panjang.

Namun, ada saja orang yang mengincar bangku bersejarah tersebut. Persisnya pada 1995, terjadi pencurian bangku peninggalan Belanda di SDN
Mlideg. Saat itu, terjadi pencurian barangbarang antik bersejarah secara besar-besaran. Namun, setelah gedung sekolah dibangun dan diperbaiki, semua bangku dan dingklik peninggalan Belanda itu aman hingga sekarang. Proses pembelajaran dulu, satu meja dengan bangku ditempati lima siswa.
Karena bangku panjangnya sekitar 150 sentimeter (cm) dan lebar sekitar 40 cm.

Dulu, hampir setiap sekolah memilki bangku dan dingklik panjang. ”Namun, adanya peraturan pemerintah mengharuskan satu bangku satu siswa, maka banyak sekolah memilih merenovasi bangku peninggalan Belanda itu,” imbuhnya.

1
2

BERITA LAINNYA
Tulis Komentar